Idealisme Protokol Kesehatan
"Intinya kelak sampai Kota Banjar, singgah Warung Jeruk." Bapak mertua saya telah mewanti-wanti, serta sebelum saya mandi serta siap-siap pergi.
Pagi itu, sudah diperkirakan untuk mengantar Bapak serta Ibu mertua pulang ke kampung halaman. Tetapi sebab hari kemarin istri bersikukuh ajak untuk pergi keluar bersama-sama, akhirnya pekerjaan yang perlu dituntaskan sebelum pergi mengantarkan pulang harus tidak terurus. Resikonya memang seharusnya mengundurkan sedikit jam kembalinya, untuk mengakhiri sedikit pekerjaan.
Sekalian siap siap, saya memerhatikan kemauan Bapak mertua, yakni, saat diperjalanan ke arah Kota Pelajar ini, beliau berceloteh 'kalau saja melalui sini cocok dengan jam makan siang, sudah pasti makan disini', sekalian menunjuk satu Rumah Makan dengan patung Jeruk besar di depannya, Warung Jeruk.
Di saat itu, memang kita lakukan perjalanan pagi dari Kota Tasik, hingga saat sampai di Rumah Makan itu, matahari belum pas ada di atas ubun kepala, serta perut juga masih tersisa menu sarapan pagi. Serta, sangat dinyatakan, saat pulang kelak, tentu Bapak mertua masih berkemauan untuk singgah serta nikmati masakan dari Warung Jeruk itu.
Bukanlah saya tidak mau menghiraukan kemauan Bapak mertua, namun dengan situasi semacam ini, lakukan melancong saja telah berefek, ditambah lagi berkunjung ke beberapa tempat umum.
"Bagaimana jika kita makan dahulu di sini mah, jadi kelak tinggal jalan saja terus sampai rumah." Saya membulatkan tekad memberi input.
"Iya, saat ini makan di sini, tetapi kelak di Warung Jeruk makan lagi." Bapak mertua secara cepat memberi respon input saya, tanpa ada memerhatikan arti dari input saya untuk kebaikan semua. Yang perlu makan di Warung Jeruk, itu saja yang ada dipikirannya.
Untuk seorang supir yang sudah jadi sehari-harinya hidup dijalan, hitung alokasi waktu perjalanan tidak susah. Saya coba mengkalkulasikan perjalanan pulang ini, supaya kira-kira sampai di Kota Banjar, perut masih juga dalam situasi terisi serta dapat melalui Warung Jeruk tanpa ada berkunjung. Dengan sedikit hitung-hitungan waktu perjalanan waktu keberangkatan, serta pertolongan dari 'Mbah Google', saya putuskan untuk pergi pas jam 12.30.
Pekerjaan dengan kebut selekasnya dituntaskan, bersiap-siap, serta ajak semua untuk makan siang serta sholat terlebih dulu. Sesudah semua usai, waktu di jam dinding ruangan tengah telah memberikan jam 12.43 atau 12.28 pada monitor smartphone, serta sudah semua siap-siap untuk lakukan perjalanan pulang.
